Skip to main content

YPP Nurullatif

YPPNL — Kelompok KKN 39 Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Teras melaksanakan program pembuatan Jadam Microbial Solution untuk petani sebagai salah satu upaya memperkenalkan pengelolaan pertanian yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan kepada kelompok tani di Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali.
Pertanian menjadi salah satu sektor yang memiliki peran penting bagi masyarakat Desa Tawangsari. Keberlanjutan produktivitas pertanian tidak hanya dipengaruhi oleh jenis tanaman dan jumlah pupuk yang diberikan, tetapi juga sangat berkaitan dengan kondisi tanah sebagai media tumbuh. SIfat-sifat tanah seperti tingkat kemasaman atau pH, tekstur, struktur tanah, kandungan bahan organik, serta aktivitas organisme tanah menjadi beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lahan.

Hasil identifikasi tanah yang dilakukan mahasiswa KKN pada beberapa titik lokasi di Desa Tawangsari menunjukkan kondisi tanah yang relatif keras. Tekstur tanah pada lokasi tersebut didominasi kelas tekstur Silty Clay Loam (SiCL) dan Sandy Clay Loam (SCL). Pengukuran kemasaman tanah menggunakan soil tester pada empat titik pengamatan juga menunjukkan nilai pH sekitar 4,5, yang mengindikasikan kondisi tanah masam. Hasil tersebut menjadi gambaran kondisi tanah di Desa Tawangsari yang memiliki tekstur lempung cukup tinggi dan pH tanah yang masam. Tanah dengan kandungan fraksi halus yang cukup tinggi dapat memiliki kemampuan menahan air dan unsur hara yang baik, tetapi pengelolaan yang kurang tepat dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi padat atau keras sehingga perkembangan akar, pergerakan air, dan sirkulasi udara di dalam tanah kurang optimal.
Pengukuran pH tanah menggunakan alat pH tester menjadi langkah awal dasar dalam program pembuatan Jadam Microbial Solution untuk membantu petani Desa Tawangsari memahami kondisi aktual kemasaman tanah. Tanah yang terlalu masam dapat mengganggu penyerapan unsur hara sehingga pemupukan biasa menjadi kurang efisien. Penjagaan kesuburan lahan secara menyeluruh tidak hanya dari aspek kimia tetapi juga fisik dan biologis, kegiatan ini memperkenalkan metode Jadam Microbial Solution (JMS) sebagai solusi alternatif ramah lingkungan, yaitu larutan perbanyakan mikroorganisme lokal dari lingkungan sekitar yang dibudidayakan dengan bahan-bahan sederhana untuk mendukung fungsi tanah sebagai media tumbuh yang optimal.
Dalam praktik yang dilakukan selama kegiatan, bahan yang digunakan terdiri dari seresah daun bambu sebagai sumber mikroorganisme lokal, nasi yang dihaluskan sebagai sumber karbohidrat, garam kasar, dan air. Bahan-bahan tersebut dipilih karena relatif mudah diperoleh masyarakat sehingga metode ini dapat dicoba kembali secara mandiri dengan biaya yang terjangkau.
Mahasiswa KKN mendemonstrasikan tahapan pembuatan Jadam Microbial Solution secara langsung kepada peserta. Petani diperkenalkan mulai dari pemilihan bahan, pencampuran, proses kultur mikroorganisme, hingga tanda-tanda aktivitas mikroorganisme yang dapat diamati selama proses berlangsung. Pada larutan yang dibuat, aktivitas fermentasi ditandai dengan terbentuknya busa pada permukaan larutan serta munculnya aroma fermentasi seperti wangi tape.
Jadam Microbial Solution tidak hadir untuk menggantikan pupuk kimia secara total, ataupun menjadi bahan utama penaik pH tanah. Peran Jadam Microbial Solution sebagai penyedia mikroorganisme lokal yang dapat menjadi pendorong alami agar biologi tanah dapat hidup lagi dan olahan akan menjadi jauh lebih ramah lingkungan.
Langkah ini menjadi penting karena pemulihan mutu tanah tidak hanya berpatokan pada indikator sifat kimia seperti pH dan ketersediaan hara. Struktur, kepadatan tanah, dan populasi mikroorganisme yang aktif di dalamnya juga dapat menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, aplikasi bahan organik dan mikroorganisme lokal dapat menjadi strategi pengelolaan tanah secara terpadu.
Lain dari pada itu, agenda JAMU TANI turut menggandeng BPP Teras, Boyolali untuk melakukan penyuluhan untuk petani tentang proteksi tanaman. Sesi penyuluhan ini dibuat agar pemahaman petani tidak hanya sebatas pada media tanam, tetapi juga dapat mengidentifikasi serangan hama dan penyakit sejak dini di lapangan.
Pihak BPP Teras, Boyolali menjelaskan terkait gejala, pemicu, sampai teknik pengendalian dari berbagai gangguan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang sering melanda lahan petani. Pada sesi penyuluhan ini, petani dibebaskan menguraikan kendala riil di lapangan, sementara penyuluh dan mahasiswa memberikan umpan balik dan memberikan solusi bersama.
Kolaborasi antara Kelompok KKN 39 UNS dengan BPP Teras, Boyolali mempunyai peran yang penting dalam mencapai keberhasilan program kerja ini. Keterlibatan penyuluh berhasil memperkuat materi, yaitu dengan memetakan kendala pertanian di lapangan secara langsung diselaraskan dengan solusi dan teknik pengelolaan yang aplikatif bagi lahan petani.
Aspek keberlanjutan menjadi tujuan yang penting dalam program JAMU TANI. Setelah kegiatan KKN selesai, bekal pemahaman terkait karakterisasi tanah, pengukuran pH, pembuatan Jadam Microbial Solution, sampai identifikasi OPT diharapkan tidak berhenti, melainkan dapat terus dipraktikkan dan disesuaikan dengan kondisi lahan petani.
Program JAMU TANI menjadi awal pijakan menuju pengelolaan pertanian yang tidak hanya mengejar output hasil panen sesaat, tetapi memperhatikan kelestarian tanah sebagai aset utama yang wajib terus dijaga. Berbekal pengenalan karakter lahan, optimalisasi potensi lokal, dan pendampingan berkelanjutan dari penyuluh, produktivitas, dan eksistensi lahan pertanian Desa Tawangsari akan mampu bertahan dalam kurun waktu yang panjang.(TIM KKN UNS)