YPPNL—Perjalanan ganjil merupakan perjalanan istimewa, perjalanan luar biasa, perjalanan irasional tidak dapat ditangkap secara tepat pancaindera manusia, tidak dapat ditangkap akal sehat manusia. Perjalanan ganjil yang dimaksud adalah Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Banyak keajaiban pada diri Nabi Muhammad SAW salah satunya adalah Israk Mikraj yang akan dibahas dalam tulisan ini. Peristiwa ini berdasarkan QS: 17, Al Israk:1 yaitu “Subhaanal laziii asraa bi’abdihii lailam minal Masjidil Haraami ilal Masjidil Aqsal-lazii baaraknaa haw lahuu linuriyahuu min aayaatinaa;innahuu Huwas Samii’ul-Basiir”. Arti secara bebas, ‘mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat’.
Ada delapan kata kunci yang terdapat pada QS, 17:1 yaitu (1) maha suci (Subhaanal laziii); (2) memperjalankan (asraa); (3) hamba-Nya (abdihi); (4)malam hari (lailam); (5) Masjid aram dan Masjid Aqsa (minal Masjidil Haraami ilal Masjidil Aqsa); (6) kami berkahi (baaraknaa haw lahuu); (7) perlihatkan tanda tanda kebesaran (linuriyahuu min aayaatinaa); dan (8) Alloh maha mendengar dan melihat (innahuu Huwas Samii’ul-Basiir).
Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW tidak berjalan seperti biasa, tetapi Alloh SWT yang memperjalankan Muhammad sebagai hamba dari masjid Haram ke masjid Aqsa dan ke Sidratul Muntaha. Perjalanan yang sangat jauh itu hanya ditempuh dalam satu malam. Perjalanan ini tidak dapat diterima oleh akal sehat mana pun, tetapi hanya dapat dterima dengan iman atau keyakinan, memang Alloh SWT yang berkehendak untuk urusan ini.
Jika Alloh SWT berkehendak tidak ada siapa pun atau apa pun bisa menghalanginya seperti yang dinyatakan QS, 36:82 ‘Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ” kun” Jadilah!”, “fayakun” maka terjadilah ia.’
Peristiwa Israk Mikraj ini sebagai bukti nyata memiliki legitimasi kuat bahwa Nabi Muhammad Nabiyulloh. Oleh karena itu, bagi orang yang tidak iman (percaya), orang yang ragu, dan sebagainya tidak ada power untuk mendelegitimasinya. Karena secara tekstual dan kontektual tak terbantahkan. (Tubiyono, 7/2/24)